JAKARTADi era ketika kebenaran tidak lagi ditentukan oleh fakta, melainkan oleh algoritma, siapa yang sesungguhnya mengendalikan realitas?. Perang modern tidak lagi sekadar fisik, melainkan konstruksi realitas berbasis media, teknologi, dan algoritma. Sehingga, peran akademisi menjadi krusial dalam mengungkap relasi kuasa, membangun literasi media, serta mengembangkan kecerdasan komunikasi strategis sebagai fondasi menghadapi era perang multi-dimensi berbasis AI. Hal tersebut terungkap saat para akademisi menggelar diskusi intelektual bertajuk ” Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia?” pada Jumat, (10/4) di Hall Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid (USAHID) Jakarta. Kegiatan yang di selenggarakan oleh Pascasarjana USAHID Jakarta, menghadirkan tiga mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi, mengulas konflik AS–Israel versus Iran dari perspektif geopolitik, strategi militer, serta komunikasi global berbasis teknologi. Dalam konteks ini, USAHID Jakarta memposisikan diri sebagai ruang produksi pengetahuan strategis melalui Program Doktor Ilmu Komunikasi yang membentuk akademisi kritis untuk memahami komunikasi sebagai arena kontestasi makna dan kekuasaan. Salah satu pembicara dalam diskusi intelektual tersebut adalah Henry Sianipar, Eksekutif Produser Liputan 6 SCTV, DIK 33, Ia menuturkan bahwa perang modern berlangsung pada level fisik, kognitif, dan epistemologis, di mana algoritma dan AI menjadi penentu persepsi publik global. “Kita sudah berada di era Perang Permanen Multi-Dimensi. AI adalah pembentuk realitas.” tutur Henry Sianipar. Bukan Perang Sporadis—Ini Skenario Lama Narasumber lain, Fathurrahman Yahya, Analis Timur Tengah, DIK 29 berpendapat bahwa konflik ini merupakan bagian dari konstruksi geopolitik jangka panjang pasca-Perang Dingin 1991. Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam perebutan energi global. “Ini perang untuk menentukan siapa yang menguasai jantung energi dunia. AS mendukung Israel dan menekan Iran karena kombinasi tiga kepentingan, yaitu energi, keamanan, dan geopolitik.” Ujar Fathurrahman Yahya, Endgame Iran: Lemah, Tapi Tak Hancur Sementara itu, Konsultan Komunikasi Global & Pengamat Politik AS, DIK 35, Didin Nasirudin memproyeksikan bahwa Iran tidak akan runtuh meskipun menghadapi tekanan militer besar, dengan strategi perang asimetris berbasis drone dan jaringan proxy. “Endgame yang paling mungkin adalah gencatan senjata tanpa pemenang mutlak. Iran melemah, tapi tidak hancur. Selat Hormuz dibuka kembali dengan aturan main baru.” Terang Didin Nasirudin. Kaprodi Doktoral Ilmu Komunikasi USAHID Jakarta, Dr. Prasetya Yoga Santoso, menambahkan, Diskusi ini menjadi bagian dari komitmen akademik USAHID dalam menghadirkan ruang dialog ilmiah yang responsif terhadap dinamika global, sekaligus membekali mahasiswa dengan kemampuan analisis strategis lintas disiplin di era disrupsi teknologi dan informasi. Program Doktor Ilmu Komunikasi USAHID berperan dalam membentuk akademisi yang memahami komunikasi sebagai arena produksi makna dan kekuasaan. “Tugas seorang akademisi adalah hadir di titik paling panas persoalan zaman. Diskusi ini adalah tanggung jawab keilmuan kita sebagai bagian dari masyarakat global.” tutup Dr. Prasetya Yoga Santoso Diskusi intelektual tersebut menyimpulkan bahwa, Perang modern adalah konstruksi realitas berbasis teknologi, media, dan algoritma. Literasi media dan kecerdasan komunikasi strategis menjadi kunci dalam menghadapi era ini.(*) Navigasi pos Siap Dukung Kelancaran Mudik Idulfitri 2026, IAS Gelar Posko Gabungan Nasional