PESAWARAN Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dan KKN Rekognisi Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Batu Raja, Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, Lampung, pada 24–25 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini mengangkat tema “Transformasi Produk Atsiri Desa Batu Raja melalui Hilirisasi Etnokosmetik Betangas dan Strategi Visual Branding Home Spa Indonesia.” Kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan baru kepada masyarakat Desa Batu Raja dalam mengolah potensi sumber daya lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan nilai jual. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan produk secara mandiri, membangun identitas produk, serta memiliki peluang untuk memasarkan hasil olahan potensi desa. Dalam sambutannya, Abdul Mukmin selaku Kaur Perencanaan Desa Batu Raja menyampaikan bahwa Desa Batu Raja memiliki potensi sumber daya yang dapat dikembangkan lebih lanjut, namun masih terdapat hasil samping dan komoditas yang belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satunya adalah air hasil penyulingan pala (hidrosol pala) yang selama ini belum dimanfaatkan dan masih dibuang begitu saja.Selain itu, potensi tanaman nilam di Desa Batu Raja juga cukup besar, tetapi pemanfaatannya masih terbatas pada proses penyulingan dan penjualan dalam bentuk minyak, belum banyak dikembangkan menjadi produk jadi yang memiliki nilai tambah. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan kegiatan PKM melalui pengenalan dan praktik hilirisasi bahan lokal menjadi produk etnokosmetik. Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi program, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan dan praktik pembuatan produk kosmetik berupa hair mist dari hidrosol pala dan bath bomb dari minyak betangas. Peserta juga mendapatkan materi mengenai branding kemasan dan manajemen keuangan sebagai bekal untuk mendukung pengembangan produk dan usaha.Pemilihan hidrosol pala sebagai bahan dalam pembuatan hair mist didasarkan pada potensi air hasil penyulingan pala yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Melalui pelatihan ini, hasil samping tersebut diperkenalkan sebagai bahan yang dapat diolah menjadi produk kosmetik, sehingga diharapkan mampu memberikan nilai guna dan nilai jual baru dari sumber daya yang tersedia di Desa Batu Raja. Sementara itu, pembuatan bath bomb menggunakan minyak betangas yang memanfaatkan beberapa jenis minyak atsiri, termasuk nilam sebagai salah satu minyak aroma utama. Nilam merupakan salah satu potensi yang dimiliki Desa Batu Raja. Selama ini, pemanfaatan nilam masih didominasi oleh penyulingan dan penjualan minyak mentah. Melalui pengembangan menjadi produk jadi seperti bath bomb, masyarakat diperkenalkan pada salah satu bentuk hilirisasi yang dapat meningkatkan nilai tambah komoditas nilam sebelum dipasarkan. Tidak hanya berfokus pada kemampuan produksi, kegiatan ini juga memberikan materi branding kemasan dan manajemen keuangan. Materi branding diberikan untuk membantu masyarakat memahami pentingnya identitas visual, desain kemasan, dan daya tarik produk dalam meningkatkan nilai jual. Sementara itu, materi manajemen keuangan diberikan sebagai bekal dalam menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, serta mengelola keuangan usaha secara lebih terarah. Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelaksanaan kegiatan, terutama pada sesi praktik pembuatan produk. Peserta aktif mengikuti setiap tahapan, bertanya, dan berinteraksi selama proses pembuatan hair mist dan bath bomb. Melalui praktik secara langsung, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai proses pembuatan produk, tetapi juga mendapatkan pengalaman dalam menghasilkan produk kosmetik dari potensi bahan yang tersedia di lingkungan mereka. Produk hasil praktik kemudian menjadi hasil nyata yang dapat dibawa dan dimanfaatkan oleh peserta.Melalui kegiatan PKM dan KKN Rekognisi ini, tim berharap masyarakat Desa Batu Raja dapat semakin mengenali dan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang dimiliki. Keterampilan dalam mengolah bahan menjadi produk jadi, membangun branding, dan mengelola keuangan usaha diharapkan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk mengembangkan produk secara mandiri, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, serta membuka peluang pemasaran produk khas Desa Batu Raja.(*) Navigasi pos Ruang Terbuka, Ruang Berfikir yang Luas dan Bebas Lampung Barat Raih Gelar Kabupaten Terkreatif di Lampung Tapis Karnaval 2026